Toilet si Kecil

Sudah tiga hari ini anuku senut-senut gak karuan. Isi batang otakku penuh oleh ketidaktahuan bagaimana peristiwa bisa terjadi. Tentang peristiwa di pondok yang cukup menghebohkan. Tentunya bukan sesuatu yang kualami karena saya bukan penghungi sana. Tak lebih saya hanyalah pembaca setia postingan teman-teman di Pondok yang akhir-akhir ini, hampir semuanya menceritakan kejadian memilukan dari seorang santri. (Kisahnya saya dapat dari blog Ita, Nunk, Muna, Ara, dan lain-lain. Sayang tak ada yang bisa mendetailkan kejadian kecuali dari Tika. Yang unik Een dimana foto pocongnya ikut dipajang di Blognya).

Yang bikin senut-senut bukan karena matinya, tapi proses kejadian yang cukup diluar kewajaran. Dari atraksi iseng-iseng seorang santri di siang hari. Si santri memasukkan ular di hidung dengan harapan si ular bakal keluar lewat mulut. Ular keluar tapi (konon) ekornya masih tertinggal didalam. Si anak tetap menjalankan kehidupan pondoknya berjam-jam sebagaimana biasanya. Namun di malam hari perutnya melilit, mengejang-ngejang. Sepertinyanya ekor yang tertinggal mengeluarkan bisa, menjalar ke seluruh jaringan, mematikan syaraf penglihatan (buta), hingga tewas menggenaskan. Innalillahi wa innalillahi rojiun. (Semoga iseng-isengnya santri tidak ditiru oleh yang lain. Saat di belahan bumi lain mengharapkan jihad, sebagai penghuni pondok tentu mengidolakan kematian syahid juga, proses kematian dari kehidupan yang sungguh-sungguh. Bukan yang iseng-iseng. Wallahualam.)

Dan, dari Palestina membuat anuku semakin senut-senut. Rakyat palestina sangat berharap penggantinya Bush memberi rasa optimistis bagi perdamaian di Gaza. Tapi si Obama, saat inagurasi tak secuilpun menyinggung soal gaza. Malahan di saat pelantikan si Obama memegang Masonic Bible sambil menghadap Obelisk Firaun di seberang Gedung Washington.

Harapan tentu pupus, tapi tidak dengan sekelompok orang yang pernah menjadi guru, pengasuh, teman sekelas, teman main, teman temannya yang disebutkan tadi, kerabat temannya baik yang pernah berjumpa atau belum. Bahkan mungkin pemilik kucing yang piarannya pernah dikawin oleh kucing pengasuh Obama kecil. Disana diadakan tumpengan, selamatan, rasa syukur, dan segala kemeriahan lain. Agaknya nama Obama benar-benar turut mengangkat nama negeri ini. Ketenaran Obama sampai dijadikan kata kunci penting selain Osama dan Ozawa oleh blog biasasaja.

Seakan Obama pernah membebaskan negeri ini dari rentenir. Seakan obama pernah mengalirkan irigasi bagi petani-petani didesa. Seakan Obama pernah memithes preman-preman di jalan. Seakan Obama pernah membantu nenek tua menyeberang jalan. Seakan obama pernah mengatasi kemacetan disekitar sekolahnya di Menteng. Seakan obama pernah jadi juru selamat kaum papa.

Sebagai anak kecil obama tak lebih dari tabiat teman-teman kecilnya. Tak ada yang bisa dibawa buat meretas pembangunan negeri. Barangkali kenangan indah bersama Obama hanya berlaku bagi teman-teman dan pemilik piaraan tadi, bukan milik seluruh penduduk Indonesia. Keindahan Obama masa kecil tetaplah kenangan. selebihnya Cuma sisa air kencing di kala itu, dan pasti berak juga. Namanya juga anak kecil.

Bangsaku semakin kerdil, disinggahi 2 tahun bisa jadi alasan untuk menghiba terangkatnya pamor nama Indonesia di mata dunia. Cukup bermodal toilet. Toilet si kecil.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov