Sejatinya teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia. Beragam alat dibuat canggih untuk membantu manusia demi efektivitas kehidupan sehari-hari. Prinsip kehadiran teknologi ini rupanya tidak saya jumpai saat hendak menggunakan busway di Jakarta.

Senin pagi tadi (28/9), tuntas urusan meeting dengan seseorang di Benhil, saya melangkah menuju halte Busway guna melanjutkan tugas berikutnya. Setelah melewati trap jembatan yang panjangnya lumayan sampailah saya di loket penjualan tiket.

Namun langkah kaki ini harus tertahan setelah membaca pengumuman kalau tiket masuk menggunakan kartu. Saya tanya ke petugas loket untuk beli tunai seperti sebelumnya dijawab tidak bisa. “Harus menggunakan kartu ini. Harganya Rp. 40.000,-.” jawab petugas sambil menunjukkan kartu di tangan.

Dongkol menghadapi kenyataan tersebut, saya balik kucing kembali menuruni trap tangga untuk ganti naik bus kopaja. **

Adanya sistem kartu memang sangat efektif, sebuah terobosan bagus dari penyedia transportasi di Jakarta. Selayaknya kartu ATM, kartu tersebut bisa diisi ulang jika habis.

Masalahnya, saya telah memiliki kartu dengan fungsi dan harga perdana sama yang saya beli saat dinas di Jakarta beberapa bulan lalu. Pas mobile di Jakarta sekarang ini kartu tersebut nggak ada di dompet maupun saku-saku dalam tas. Entah nyelip di mana. Karena aktivitas keseharian tidak di Jakarta wajar kalau benda tipis tersebut hampir tidak lagi saya perlukan sehingga berdampak lupa naruh.

Bukan tak mau beli lagi, tapi harga perdana segitu bagi saya cukup mahal. Ditambah rasa kecewa pas beli perdana sebelumnya. Dengan harga Rp. 40.000,- sudah habis hanya 2-3 kali masuk halte. Jika dikurangi harga tiket sebenarnya yang cuma Rp. 3.500,- betapa mahal harga kartu tersebut. Tak mungkin juga saya punya dua, apa guna model isi ulang bila sekarang harus beli perdana lagi.

Bagi saya, kartu busway hanya cocok untuk orang yang hampir setiap waktunya menggunakan moda transportasi bikinin Tiongkok itu. Mungkin ingin meniru kota-kota modern di mancanegara. Tapi secanggih-canggihnya sistem MRT Singapura tetap menjual kartu single trip sebagai alternatif bagi orang yang tak ingin membeli kartu ez-link yang fungsinya seperti kartu busway di Jakarta.

Sesuai namanya, kartu single trip hanya bisa digunakan sekali jalan (tidak bisa direfill). Kartu ini banyak menjadi pilihan bagi para wisatawan yang ingin berhemat. Atau siapapun yang tidak stay di negeri singa tersebut.

Kalau dilebarkan ke sektor pariwisata, agaknya Jakarta tak cocok buat wisatawan yang sekali datang pergi pulang. Kontra produktif dengan keinginan gubernur DKI menjadikan propinsinya ramah bagi pelancong. []

(Visited 13 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov