Tanggapan di Facebook Soal Gay atas Kicauan Tokoh JIL

Diskusi dengan Irshad Manji, penulis buku “Allah, Cinta dan Kebebasan”, dibubarkan paksa oleh ratusan orang di Bantul. Massa yang membawa selebaran Majelis Mujahidin Indonesia itu mengobrak-abrik tempat diskusi, kantor Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). Sebelumnya aksi serupa juga terjadi di Jakarta, saat aktivis pejuang lesbianism dari Kanada itu hadir dalam bedah buku yang dikomandoi oleh dedengkot Jaringan Indonesia Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalah yang juga merupakan kader NU.

Gerah agendanya diobrak-abrik massa, Ulil Abshor menyuarakan pikiran-pikirannya melalui twitter. Harapan tokoh Aktivis Liberal Sekulerisme Indonesia & Pengurus DPP Partai Demokrat tersebut tentu ingin membuat masyarakat menjadi tercerahkan. Bagaimana pikirannya? Simak screenshot dibawah, saya ambil dari Facebook, berikut komentar-komentar masyarakat yang menyertainya.

KOMENTAR:

Sejak dahulu, kaum kuffar yang mengingkari para Nabi selalu meminta dipercepat datangnya adzab. Tentu kita berharap adzab Allah SWT tidak diturunkan ke Indonesia lantaran segelintir orang seperti Ulil, yang justru meminta dipercepatnya adzab. Na’uudzubillaahi min dzaalik…

KOMENTAR:

Jika Ulil teliti, sebenarnya yang tepat adalah “homoseksualitas”, bukan “lesbianisme”. Lesbianisme adalah hubungan sesama jenis khusus perempuan, sedangkan homoseksualitas bersifat umum, baik untuk laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini, Ulil juga lupa bahwa dalil Islam yang melarang homoseksualitas bukan hanya di dalam al-Qur’an, melainkan juga berlimpah dalam al-Hadits. Memang merupakan kebiasaan kaum liberalis untuk senantiasa mengutip al-Qur’an sambil mengabaikan al-Hadits. Sebab, sebagian penjelasan al-Qur’an terletak di hadits Nabi saw. Dengan mengabaikan al-Hadits, maka al-Qur’an pun lebih mudah untuk diselewengkan.

Biasanya, jika kaum liberalis dihadapkan pada hadits, mereka akan menjawab “Hadits banyak yang dhaif”. Inilah warisan pemikiran orientalis, yang menurut Syaikh M.M. al-A’zhami, terlalu simplistis dan fatalis. Kaum orientalis berpendapat semua hadits itu dhaif dan mereka mengira umat Muslim berpendapat semua hadits itu shahih. Padahal tidak ada orang waras yang berpandangan semua hadits itu shahih, demikian juga tidak waraslah orang yang mengatakan bahwa semua hadits itu dhaif. Para ulama muhaddits sudah mengembangkan kajian yang sangat komprehensif untuk menentukan suatu hadits itu shahih atau tidak.

KOMENTAR:

Tentu saja, Ulil tidak pernah membuat kajian yang komprehensif mengenai hal ini, meskipun ia mengklaim seolah-olah ‘telah mengkaji seluruh ayat tentang kaum Nabi Luth as’.

KOMENTAR:

Perlu dipahami bahwa gaya berbahasa semacam ini adalah teramat umum di kalangan liberalis. Dengan kalimat semacam ini, mereka bersikap seolah-olah tak mungkin ada yang berbeda pendapat dengan mereka, selama kita kritis. Kalimat-kalimat semacam ini, misalnya, didahului dengan kata-kata “Jika kita baca secara keseluruhan…”, “Jika kita kaji secara komprehensif…”, “Jika kita banyak membaca…”

KOMENTAR:

Memang benar, kaum Nabi Luth as melakukan banyak hal. Dari 3 tindakan yang disebutkan oleh Ulil (menentang Nabi Luth as., menggauli sesama jenis, mengganggu malaikat), manakah yang kira-kira mengundang adzab Allah SWT? Jika Ulil memang mengaku kritis, semestinya ia juga bersikap kritis dalam hal ini. Dan lagi-lagi, penjelasan mengenai perilaku kaum Nabi Luth as yang mengundang adzab Allah SWT juga bisa dibaca dalam al-Hadits. Sayang Ulil tidak mengkajinya.

KOMENTAR:

Kaum Nabi Luth as juga makan, minum, berdagang, dan melakukan hal-hal lain layaknya manusia lainnya. Tapi apakah yang disebut sebagai “perbuatan kaum Nabi Luth as”? Kalau pun kita menggunakan rasio dalam hal ini, tentu saja kita mengerti bahwa yang dimaksud adalah perbuatan homoseksual. Sebab, itulah perilaku yang menjadi ‘trademark’ kaum Nabi Luth as.

Selain itu, jika kisah kaum Nabi Luth as tidak memberi kita informasi yang jelas mengenai hal apa pun, lantas untuk apa kisah itu dituliskan di dalam al-Qur’an? Inilah cara berpikir ala kaum skeptis, yang meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan, atau kaum post-modernis, yang sudah seratus persen menolak adanya kebenaran. []

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov