Sepasang Petugas Loket dan Pengemis

Akhir Mei 2009 usai memenuhi undangan menjadi narasumber dalam talkshow di kampus Univ Trunojoyo Madura, saya berdua bersama kawan langsung balik pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan yang cukup jauh tersebut tersebut saya naik motor, melintas menyeberangi selat Madura diatas kapal Feri.

Setelah 15 menit menyusuri jalan provinsi Bangkalan-Kamal tibalah saya ketempat antrian loket di dermaga Pelabuhan (saat itu jembatan Suramadu belum diresmikan). Diantrean tersebut sudah mengular orang-orang dengan kendaraannya masing-masing.

Pada saat antran yang masih jauh di belakang, perhatian saya tertuju pada area didepan loket. Disitu terdapat seorang pengemis dengan balita digendongan. Pikiran saya menangkap keanehan tersendiri karena setiap orang membayar di loket sebelah kiri saat itu juga langsung memberikan uang receh ke pengemis yang posisinya persis di sebelah kanan pengantre. Saya meyakini uang tersebut adalah kembalian dari loket karena tak tampak gerakan tangan dari pengantre mengambil sesuatu dari sakunya.

Kejadian yang sama berlanjut di setiap antrean berikutnya, dimana setiap pengantre membayar loket setiap itu pula memberi sedekah kepada pengemis. Bayar di kiri, sedekah di kanan. Begitu seterusnya.

Sampai kemudian tiba giliran saya. Saya berikan 10.000,- ke petugas lantas uang logam Rp. 500,- saya terima sebagai kembalian karena total tarifnya adalah Rp. 9.500,-. Saya terima uang itu sambil melirik pengemis di sebelah kanan, tapi saya menyadari ada âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢sesuatuâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ dalam kejadian itu. Karena âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“sesuatuâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ itu maka saya tidak memberikan sisa uang dari petugas ke pengemis, saya lanjut dan langsung menuju kapal setelah sebelumnya mencari dek yang nyaman buat motor.

Di atas kapal saya bergumam dan berpikir dalam hati, sambil sesekali menengok ke belakang, ke arah modus mengemis tadi yang masih berlangsung hingga kapal berangkat. Cukup jitu juga kiatnya. Untuk mengemis tak perlu menyusuri jalan-jalan atau ruang penumpang. Cukup berdiri diam di seberang loket dan secara âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“otomatisâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ menerima apa yang disedekahkan calon penumpang kapal. Tak banyak gerakan meminta dari tangan pengemis, sepertinya dia yakin bahwa modal posisi dan penampilan lusuhnya mampu menumbuhkan empati bagi setiap calon penumpang untuk memberikan uang kembalian. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Cuma selogam Rp. 500,-. daripada repot masuk-masukin ke saku yang pasti bakal mengganggu antrean mending langsung diberikan ke pengemis. ” Sepertinya ini pertimbangan yang kerap muncul dibenak calon penumpang. Plus ditambah harapan pahala tentunya.

Tapi adakah pahala dalam intrik bisnis. Sesuatu dalam tanda petik ini yang tadi saya rasakan. Koq bisnis? Ya, jika dihitung-hitung taruhlah dalam satu pemberangkatan kapal terdapat antrean 20 Motor, maka pengemis tadi sudah mendapatkan 10.000,- hanya 10-15 menit berdiri didepan loket. Berapa kali kapal berangkat dalam sehari, tentu tidak sekali, bisa puluhan kali. Jadi income seorang pengemis bisa 200rb-300rb dalam satu hari. Sekali lagi, cukup berdiri disamping loket.

Yang menggelitik bagi saya adalah kenapa jumlah kembalian tepat Rp. 500,-. Tidak lebih tidak kurang, dan perlu tahu juga, jumlah ini sebenarnya hasil akumulasi dari 2 lembar tiket yang wajib dikenakan untuk calon penumpang bermotor. 1 lembar Rp. 3.800,- dan 1 lembar lainnya Rp. 5.700,- . Nominal yang aneh menurut saya. Kenapa tidak dibulatkan menjadi 4000,- dan 6000,- sehingga hasilnya pas 10.000,-.

Apakah ada bargaining antara petugas retribusi dan pengemis. Jangan-jangan seluruh recehan yang diterima pengemis kembali diputar ke petugas untuk ditukar uang lembaran dengan fee tertentu. Ahâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦ lama-lama saya jadi memelihara prasangka buruk. Jangan-jangan nenek itu pengemis beneranâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦ ***

Gambar atas diambil dari :
http://watung.org/2007/07/19/rasulullah-pengemis-tua-dan-satu-sen/

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov