Pesta Blogger Lewat

Not to PBBagi kalangan blogger tanah air tentu tak asing dengan nama Pesta Blogger, yang sering disingkat dengan PB. PB adalah event tahunan blogger indonesia yang diselenggarakan oleh Mav***ck dan tahun ini adalah yang ke-4 kalinya PB diadakan, bertempat di Menara Bidakara, dengan pengunjung lebih dari 1500 orang, memecahkan rekor sebelumnya.

Dibanding tahun sebelumnya kali ini saya tak membuat event report tentang PB, karena di tahun ini saya sendiri tidak hadir. Sengaja, bukan karena suatu halangan pekerjaan atau keluarga. Sampai-sampai beberapa kawan mempertanyakan konsistensi (komitmen) saya terkait agenda blogger. (ohh.. Saya dianggap blogger rupanya), seakan kehadiran di PB dianggap sebuah kewajiban.Itulah yang membuat saya harus memposting tulisan ini.

Untuk menghadiri PB di Jakarta sebenarnya bukan hal berat bagi saya mengingat rutinitas pekerjaan dan keluarga juga masih sering di Ibu kota. Dari komunitas juga telah mengabarkan tiket masuk gratis untuk anggotanya yang berangkat (saya masih berafiliasi dengan salah satu komunitas di Surabaya), apalagi H-2 sebelum PB digelar seorang kawan dari Bogor, kebetulan blogger juga mentransfer sejumlah dana untuk transport ke Jakarta. Lantas apa yang membuat saya urung datang. Berikut beberapa alasan:

  1. PB diselenggarakan di tengah rententan bencana di tanah air. Posisi di Surabaya jika menuju jakarta tentu melewatinya. Meskipun saya tak melakukan tindakan praktis meringankan korban bencana rasanya tak sampai hati jika melewati rute itu.
  2. MASIH terkait dengan nomer 1, suasana PB tahun sebelumnya sangat gemerlap dan wah, sepertinya tahun ini tak jauh beda. Berjoget, menari, membagi doorprize, itulah gambaran PB. Bisa anda bayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita di Mentawai, Wasior, dan Merapi. Sangat kontradiktif dengan label blogger yang sering dikenal dengan kepekaannya terhadap lingkungan.
  3. Beberapa pekan sebelumnya, jakarta tengah ditimpa kemacetan total di segala penjuru kota akibat air tergenang. Hampir seluruh penduduknya mengeluh dan teriak, seakan cuma kota mereka yang terkena musibah. Tapi kemudian di salah satu gedung masyur di kota itu mereka tetap siap berpesta. Ehmm.. Aneh bukan.
  4. (yang ini klise) Bau komersilnya sangat kental. Bayangkan, untuk masuk acara harus membeli tiket seharga Rp. 50.000,-. Memang nanti akan dapat goodybag dengan beragam isinya, tapi bukankah ini sama halnya dipaksa membeli isi goodybag tersebut. Perusahaan (spt Mave***) mana yang mau rugi, pasti sudah ada itung2an bisnisnya. Dengan jumlah itu blogger (pengunjung) juga berhak mengikuti undian doorprize seperti Notebook, dkk. Ehmm.. Sebuah iming-iming yang bisa mengaburkan empati atas bencana.
  5. (yang ini idealis). Tema yang diusung PB berbau propaganda asing. 2009 “One Nation”, 2010″..keanekaragaman”, ehm apalagi… Mendorong Indonesia ke arah perbaikan. Tampaknya begitu, tapi hati ini merasakan hal lain. Kenapa hal itu diupayakan ‘negara’ lain. Sama seperti no 4, adakah yg berbuat tanpa disertai maksud lain. Sangat sensitif dan terlalu panjang kalau saya jelaskan disini. Kapan-kapan kalau ada waktu dan ruang cukup. Intinya apa yang saya rasakan tak jauh beda dengan teman lain: “Ini bukan Indonesia”
  6. Acaranya bertema Blogger, tapi jika anda datang ke tempat tsb sebagai blogger apakah anda merasa menjadi tuan rumah? Jawabnya pasti tidak. Tak ada orang yang mengenal anda. Upaya untuk mengkondisikan hal tsb pun tidak tampak. Sangat berbeda jika anda mengikuti agenda-agenda blogger yang dihelat oleh komunitas. Non-sense jika dalih anda datang ke PB untuk menjalin silaturahmi.
  7. Perkembangan netizen (menurut saya pribadi) mengalami degradasi nilai. Ingat ketika beberapa kelompok pergi ke Gaza dalam misi kemanusian. Satu dari banyak cibiran yang dikembangkan oleh netizen: “Seakan negara sendiri tak ditimpa musibah” Namun, saat kemudian beberapa kelompok tersebut mengirimkan misinya ke tempat-tempat bencana di Indonesia aneka suara juga bersahutan-sahutan di berbagai social media.” tumben”, “Kampanye dini ya,” hingga yg lebih parah: “Ikhlas gak sih koq pake bendera parpol”.
    Itulah suara-suara para netizen, dan Blogger termasuk didalamnya. Mungkin dengan memasang banner-banner “Save A”, “Peduli B”, dan sejenisnya sudah cukup dianggap peduli. Atau memang hanya itu yg bisa dilakukan, karena selebihnya mereka sibuk menebar wacana tanpa peduli bagaimana kenyataan dilapangan. “Lempar batu sembunyi tangan”

Demikian. Anda punya pengalaman terkait PB 2010? sumbangkan melalui komentar di bawah.

Blogshop TPC
Tak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Kegiatan lokal tak kalah asyiknya.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov