Mewarnai Pondok, Mungkinkah?

Dalam sebuah perjalanan mudik dengan kereta api, dari Cirebon menuju Surabaya, saya bersebelahan dengan seorang yang mengaku dari Jakarta dengan tujuan Madiun. Setelah saya tanya dan basa-basi sejenak didapat informasi kalau tujuan sebenarnya adalah Gontor. Kemudian dia berbagi pengalaman selama nyantri di sana, dari metode hingga seringnya dia mendapat hukuman.

Agar pembicaraan berimbang saya memperkenalkan diri dengan berpura-pura sebagai guru di Ponpes al Hikmah. Kebetulan saat itu kereta sedang melintas Bumiayu. Tidak selancar yang dibayangkan ternyata dia gak kenal dengan Ponpes Al Hikmah. Glekk,..

Kisah selanjutnya tak penting ditulis, karena saya hanya ingin mengupas tentang mark, image, atau personal brand dalam sebuah ponpes. ***

Gontor. Seperti kisah diatas, saya dan mungkin juga anda akan mengingatnya sebagai Pondok Bahasa. Di Ponpes ini keharusan berbahasa asing sangat dijaga dan dibudayakan. Dua minggu bahasa Inggris, dua minggu Arab. Hal yang sama dicitrakan untuk Ponpes Bahasa yang ada di Pare, meski dengan model yang berbeda.

Sebutan Pondok bahasa dalam dunia marketing dikenal sebagai pencitraan perusahaan (Bila kita menganggap ponpes adalah perusahaan. Tentunya harus dilepaskan dari maksud komersial). Adanya citra perusahaan akan memberi warna sendiri yang memudahkan orang mengenalnya. Dengan memiliki brand, sebuah ponpes akan lebih dikenal masyarakat, menjadi gampang diingat seperti nama google, honda, dan sanyo dalam dunia teknologi.

Selain bahasa, brand lain juga disematkan ke beberapa ponpes di tanah air. Ponpes Suralaya misalnya, orang mengenalnya sebagai Ponpes rehabilitasi narkoba. Kemudian Pondok Fiqih untuk Lirboyo, Pondok kyai khos untuk ponpes di Langitan, dan Pondok tua untuk Buntet. Bahasa, Narkoba, Fiqh, Tua, dan Khos adalah contoh nama brand.

Bandingkan dengan Ponpes Al Hikmah. Coba gunakan kacamata orang awam, bertanya tentang ponpes Al Hikmah. Orang bakal menggeleng tak mengenalnya.

Anda bisa menyanggah anggapan ini karena bisa jadi anda seorang santri yang tentu tak asing dengan dunia perpondokan, –toh seorang santri diatas nyatanya juga tidak mengenal al Hikmah-. Kenapa ponpes sebesar Al Hikmah kurang dikenal dibanding Gontor, Buntet, dan Suralaya. Padahal hampir setiap hari ponpes ini ramai aktivitas, baik event lokal maupun nasional.

Nuwun sewu, kalau penulis boleh menganalisa jawabannya satu : karena tak adanya pencitraan tentang Ponpes seperti yang saya uraikan diatas.

Untuk soal citra, kita bisa warnai dengan apa yang menjadi ke khas an disana. Tapi kalau mau jujur dan punya nyali kita bisa sematkan Ponpes Al Hikmah sebagai tempat nyantrinya orang belajar menulis. Ponpes Penulis, bisa disebut demikan. Kurang keren? Siapa bilang. Menulis bukan aktivitas biasa, tapi sebuah kemuliaan.

Dalam sejarah keemasan dunia Islam akan banyak kita jumpai tokoh-tokoh yang mewarisi ilmunya dengan menulis. Sebutlah Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang mana Rosulullah menyebutnya sebagai pintu ilmu, atau Zaid bin Tsabit, kemana-mana selalu mengikuti Rosulullah dan menulisnya. Atau kita bisa telusuri para pakar ilmu seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Jabar, Al Khawarizmi, . dan lain sebagainya. Seluruh ilmunya bisa kita ambil manfaatnya karena ilmu-ilmu yang ditulisnya.

Selanjutnya kita boleh tarik kebelakang, beberapa masa sebelumnya: bagaimana upaya sahabat menjaga Al Quran : jika mendengar satu ayat, mereka langsung menghafal atau menuliskannya di pelepah kurma, potongan kulit, batu cadas atau tulang belikat unta. Periode berikutnya, sebuah lompatan besar sejarah perkembangan Islam terjadi: Penulisan Al Quran dalam sebuah mushaf.

Sekarang, layakkah ponpes Al Hikmah disebut sebagai pondoknya santri penulis?
Ya itu terserah anda sebagai santrinya.. Saya kan cuma guru yang mengaku-ngaku.. :_) ***

Tulisan ini cuma sentilan belaka. Mohon maaf jika dijumpai kesalahan dalam penulisan tokoh dan sejarahnya, berikut juga dengan ‘labelisasi’ terhadap beberapa ponpes.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov