Madura Tak Butuh Jembatan

Beberapa hari pasca peresmian jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) publik dihebohkan dengan hilangnya mur, baut pagar jembatan, dan lampu proyek pada jembatan. Setelah terjadi aksi pencurian pada fasilitas Jembatan Suramadu itu, Polda Jatim langsung melakukan langkah-langkah pengamanan.

Kepala Balai Besar Jalan Nasional V yang membawahi proyek Suramadu, AG Ismail mengaku persoalan pencurian aset publik atau vandalisme bukan pertama kali terjadi di Suramadu. Ketika pertama dibangun, besi untuk kerangka jembatan juga banyak yang raib. Bahkan, lanjutnya, belakangan ada komplotan khusus yang tertangkap mencuri besi dari dasar laut. Selain itu, selubung pondasi sisi Madura dari logam khusus juga pernah dilaporkan hilang pada 2006 lalu. Padahal saat itu sedang banyak pekerja. Dan ketika sekarang sudah tidak ada lagi pekerja di proyek tersebut, maka kemungkinan adanya orang-orang iseng untuk mencuri sekrup dan komponen lainnya akan semakin terbuka peluangnya.

Merespon kasus vandalisme tersebut, Forum Keluarga Madura Perantauan (FKMP) segera melayangkan somasi kepada Kepala Balai Besar Jalan Nasional Regional V A Gafar Ismail, terkait tudingan hilangnya lampu dan mur di Jembatan Suramadu. Somasi tersebut dilayangkan karena faktanya tidak seperti yang diberitakan media.

Ketua FKMP MH Said Abdullah menyayangkan pernyataan Ismail yang tak sesuai fakta di lapangan. Sebab, kenyataannya properti Suramadu yang dikabarkan hilang tersebut ternyata belum dipasang oleh pelaksana proyek.

Menyakitkan bagi warga madura karena berita tersebut terasa melecehkan. Seolah-olah warga Madura adalah pencuri. Kesan tersebut bukanlah hal baru. Ketika program dan fungsi jembatan disosialisasikan, seorang moderator dalam forum dialog bertanya pada salah satu warga. “Apakah menurut bapak pembangunan jembatan ini akan meningkatkan perekonomian masyarakat Madura?âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚.

âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Yaaaâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦!âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Jawab seluruh warga dikanan kiri belakang dengan serempak. Padahal yang ditanya cuma satu orang. Seakan mereka memang siap untuk melakukan âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“sesuatuâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ terhadap jembatan. Jawaban ini seakan juga membenarkan pameo yang berkembang di masyarakat, bahwa “Madura itu nggak doyan susu tapi doyan kalengnya.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Atau bahasa kasarnya saat ini Madura tidak butuh jembatan, tapi butuh mur, baut, lampu, besi, dan lain-lain.

Apakah warga Madura benar-benar melakukan aksi pencurian pada fasilitas Jembatan Suramadu ? atau sekedar bumbu penyedap dalam cangkrukan? Belum ada bukti hingga kini, namun berita-berita sisi miring terkait Suramadu terus bertambah dan berhembus; tentang kondisi jalan yang mulai nyut-nyutan, tentang adanya pengendara yang jatuh ke laut, sampai pada robohnya jembatan.

Semuanya masih beralamat ke Madura…

***

Klik gambar untuk memperbesar
Gambar kartun diambil dari Kompas Cetak edisi Minggu 21/6 2009

Glosary:
Cangkrukan : bahasa surabaya. menyebut kegiatan nongkrong di jalanan, diwarung kopi, guna membahas bermacam isu dan lain-lain.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov