Kundarti

Kundarti. Sebutlah namanya demikian. Sepintas anda mungkin menganggap judul ini merupakan sebuah cerpen bergaya sastra mistis. Atau mungkin menyangka saya bakal bercerita tentang nasib seorang TKW di negeri Jiran, atau kisah seorang terdakwa mati kasus pembunuhan majikan di negeri Emirat

Bukan, Kundarti adalah seorang sahabat wanita yang pernah nyantri di Bumiayu, Brebes beberapa tahun yang lalu. Dia adalah mantan staff yang berkumpul dalam kelompok Kruchild di Lab Multimedia Pondok. Dedikasi dan kredibilitasnya patut diacungi jempol plus seluruh jari tangan dan jari kaki. Setiap tahun mampir ke Pesantren saya masih melihat dia mengemban tugas pengabdiannya sebagai alumni santri. Begitu loyal. Setidaknya untuk 3 tahun yang lalu.

Adalah kejanggalan juga ketika saya menyebut dia seorang sahabat. Perjumpaan saya dengan dia tak sebanyak jumlah jari manisku. Saat di Pondok, 5-6 tahun lalu hanya beberapa jam sehari saya berjumpa, selebihnya dia harus menjalankan tugas-tugas di Sekolah. Aturan pondok juga membatasi aku dan dia untuk bersama sehingga saat-saat harus bersama dia harus kembali ke kamarnya ketika tidur. Begitu seterusnya hingga waktu begitu panjang memisahkan diriku dan dirinya ketika Krucild mampu mandiri untuk mengelola website.

Yang kudedikasikan dari Kundarti adalah ke-streng-annya. Ia mampu melawan kebijakan Sekolah yang terlalu menyiksa kebebasan. Iya berani bilang âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”tidakâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ tatkala tulang-belulangnya sudah tidak kompak lagi dengan sel-sel syarafnya. Lebih-lebih kalau mood sudah tak lagi berpijak, kepala Lab bisa pusing dibuatnya. Tak cukup, ia berani pula untuk mogok, bolos, dan lain-lain. Apa yang dialaminya di Sekolah/pondok dengan berbagai hukumannya tak jauh beda jika anda menonton âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Gadis berkalung Sorban.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚

Kundarti besar tak jauh berbeda dengan Kundarti kecil. Bekal karakter yang keras terbawa terus sepanjang hidupnya, menjadikannya tak gentar sedetikpun saat menghadapi ganasnya kehidupan diluar pondok, the reality live yang sebenarnya jauh lebih panas penuh intrik dan sikutan antar manusia. Di Kota Kembang Bandung dia mengawali kerasnya persaingan hidup, kerja di beberapa perusahaan berskala kecil. Bertahan beberapa tahun sampai kesulitan hidup memaksa dirinya balik ke kampung halaman di Magelang. “Belati harus diistirahatkan untuk diasah biar tajamâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚, Alibinya ketika kuledek tentang langkah surutnya.

Alasan yang menurutku Cuma pelipur lara ternyata benar adanya. Beberapa bulan kemudian dia balik lagi ke kota, ambil kuda-kuda sejenak dengan berpindah-pindah kantor, lantas melejit menjadi marketing sebuah Perusahaan alat kesehatan, tangan kanan langsung dari Bosnya. Dirinya bagai belati yang sudah saatnya menyayat untuk menyisiri kehidupan kota. Kapan saja bisa naik mobil mewah bersama Bos.

Tapi Kundarti tetaplah Kundarti. Dirinya bagai putaran roda yang pada gilirannya bisa jatuh ke bawah. Kebalnya nasib membuat dia sudah menganggap remeh dunia sekaligus mentertawakannya. Aku membuktikannya sendiri ketika mobil butut TPC, komunitas Bloger Surabaya yang mengantarnya hingga Magelang, berjubel-jubelan dengan seluruh rombongan. Bukannya keluh kesah yang kubaca dari smsnya, tapi sebuah applaus ucapan terimakasih terhadap ajakanku.

Siap boz! Ancen! Pertama ngeblog, pertama naek gunung, pertama ketemu org2 kurang waras.. Tp justru hidup menjdi lebih hidup! Hidup Blogger Mania.

Aku senang membacanya,
sampai sms berikutnya masuk âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦

Terminal magelang. Okay dc! Wah aq mau lg balek disangoni gas beracun ping bola-bali mbek kembaranmu cak! Hahaa.. Sampe mw pingsan. Lbh jelase tanya Mantan Kyai

Aku sedih mencoba berempati. Tapi karena Kundarti, aku jadi tertawa terbahak-bahak melepas kepergiannya.

Entah kapan lagi saya berjumpa dengan orang ‘waras’ macam diaâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦

(Visited 22 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov