Kisah Sang Mualaf

Open Source sering diidentikkan dengan penggunaan Linux sebagai OS (Operating System), karena Linux memungkinkan codingnya dikembangkan oleh siapa saja, pendek kata di Open untuk umum. Karena di open itu membuat linux muncul dengan berbagai varian yang umumnya disebut dengan distro.
Lawan dari Open Source tentu Close Source kalau diverbalkan secara sederhana. Market mengenalnya dengan proprietary alias sorftware berbayar (CMIIW) dan banyak orang mengenalnya sebagai software legal, meski ini termasuk julukan yang salah. Mungkin karena di Indonesia terlalu banyak sofware bajakan.

Ngomong-ngomong soal Open Source, saya telah menggunakannya tidak lama setelah linux beredar, tepatnya di tahun 1999 an. Linux Suse menjadi pilihan karena sudah mendukung bahasa Indonesia. Tapi motifnya cuma untuk mempelajari teknik berbagi koneksi saja demi mensiasati mahalnya wingate. Tidak lebih, selebihnya dan seterusnya justru balik lagi ke software ilegal. Win 98 :).

Seiring jaman dan kebutuhan project saya kembali mendekati linux setelah pengajuan diri sebagai network administrator jaringan hosting di salah satu perusahaan di Jakarta diterima. Bergelutlah saya dengan dunia shell, senjata ampuh dalam mengelola server data. Jadi pintarkah? jelas tidak, karena seseorang menawarkan kemudahan pengelolaan hosting dengan tools Cpanel. Create BIND, domain, email, subdomain, hingga edit zone cukup sekali dua kali klik. Intinya, tak perlu susah-susah pake CLI. Beruntung perusahaan saya termasuk ‘basah’. Anggaran software diajukan saat itu juga cair dan terinstall. Belajar shell pun berhenti. Dan kembalilah saya kepada software ilegal. Windows 2000 🙂

Kenapa saya begitu mudah balik lagi ke jalan sesat. Apakah saya plin-plan. Maybe. Tapi kebutuhan pekerjaan yang membuat saya tak bisa lepas dari kebiasan bermain-main dengan Photoshop, Flash, Dreamweaver, dan sejenisnya. Sebagai seorang desainer saya cukup nyaman bekerja dengan software-software mahal tersebut, yang ditangan saya (tentu juga anda) bisa menjadi murah karena gampangnya didapat. Saya tahu ada inkspace yang bisa menggantikan corel, GIMP pengganti photoshopnya. Tapi witing tresno jalaran soko kulino, tetaplah saya geli bertemu dengan tool-tool tersebut.

Sekarang, seiring jaman dan iman (mungkin …ehm karena bertepatan dengan Ramadhan 1431 H) saya kembali dihadapkan dengan linux. Kali ini bukan karena pekerjaan, tapi karena gejolak kala memakai software properaty. Saat menemani tim Internet Sehat ke salah satu pondok di lamongan secara kebetulan bertemu dengan tim Blankon yang mempromosikan distro linuxnya. Takjub saya melihat pondok sekecil ini (kecil karena saya biasa berbaur dengan pondok Al Hikmah), di desa yang sangat terpencil, begitu nyaman dalam menggunakan linux. Penggunanyapun juga santri selevel SMA. Mereka membuat komunitas MOS, Madrasah Open Source untuk menyebarkan virus kebaikan penggunakaan Open Source di seluruh madrasah. Salah satunya melalui acara Bahtsul Masailinux. Pelesetan dari Bahtsul Matsail, forum khas pondok dalam mengkaji masalah-masalah kontemporer.

“Kalaupun kita beli software secara legal, seperti punya microsoft misal, itu sama halnya kita menyumbang 600 Milyard ke Amerika” Kata Gus yang mengaku mualaf ini mengutip pernyataan Kang Ono. Woo besar juga. Atau salah dengar?, tapi sedikit atau banyak tetaplah kita mengenyangkan mereka.

Geli mendengar pengakuan gus saat menggunakan kata mualaf. Yang dimaksud mualaf tentu pengguna baru Linux. Tak salah, psikologisnya tak jauh beda dengan mualaf beneran. Jika anda terbiasa dengan windows terus berpindah ke Linux, apa yang anda rasakan? Tak hanya urusan bathin, pasti ada satu spirit yang menyertainya.

Bimbang hati ini. Segera saya minta copian distro yang mereka bawa. Langsung install begitu sampe rumah. Bagaimana dengan pekerjaan desain?

Ehm… ntar de. paling juga balik ke proprietary. Selagi belum kaffah 🙂

note: Thanks untuk Kang Prad atas panduannya.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

Site Footer