main

Layanan

Keanehan petugas security KA BIMA saat lapor kehilangan

19 Desember 2010 — 5

Sebelumnya saya pernah mengirim kekecewaan terhadap manejemen KA kala menaikkan tiket BIMA Pwt-Sby yang cukup melonjak. Dari awalnya 170rb menjadi 260rb. Dan semakin sesak kala mendapati tiket weekend sampai menyentuh Rp. 310.000,-, harga ini sama dengan jarak JKT-SBY. Tapi saya coba maklumi dan berbaik sangka bahwa mahalnya harga tentu berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan dan keamanan. Dua faktor ini mutlak saya perlukan setelah 2 hari disibukkan oleh kegiatan yang sangat menguras tenaga. Ditujuan, beberapa agenda juga menanti.

Tapi apa yang terjadi, Laptop saya raib dari dalam tas.  Kondisi tas  punggung masih rapi, tanpa terlihat bekas kalau isinya ada yang diambil. Saya sadari ketika jelang masuk Surabaya. Reflek saya langsung mencari petugas atau kru. Oleh kru yang saya temui  langsung diantar menuju restorasi yang terasa jauhnya dari posisi gerbong saya. (saya berada di gerbong terakhir).  Tiba di restorasi saya dibawa masuk ke ruangan dimana para security berkumpul. Setelah mendengar maksud kedatangan saya, mereka menyesali kejadian ini, beberapa tampak menunduk, saling menatap mata satu sama lain.(hati saya sempat geli, ini aneh, petugas garang gini koq main sesal-menyesal, begitu mengharukan kaya nonton sinetron).

Salah satu diantaranya bercerita kalau tadi juga ada orang laporan kehilangan, tapi berbeda dengan saya karena orang tersebut menolak tawaran petugas dibuatkan surat/berita kehilangan. Gelagat orang itu tambah mencurigakan karena tidak tampak orang yang membawa tas sebagaimana layaknya orang bawa laptop. (kisah yang saya dapatkan saat suasana mengharukan tadi)

Selanjutnya petugas itu mengatakan kalau pelaporan saya boleh dianggap telat karena menjelang masuk surabaya seluruh petugas berkumpul seperti ini. Seakan tugas keamanan mereka telah tuntas. Beberapa saat kemudian kereta berhenti di stasiun wonokromo, lantas seseorang dari petugas tadi muncul sembari update info kalau orang yang mencurigkan tadi telah turun di stasiun wonokromo.

Dari situ ada tiga keanehan :

  1. Kenapa saya malah digiring menuju ruang petugas yang berada di restorasi, bukan kru tersebut saja yang mencarinya sendiri untuk kemudian menemui saya. Padahal tempatnya sangat jauh dari gerbong saya. Dengan tetap berada di tempat setidaknya saya bisa mengamankan lokasi. Saya coba mengingat-ingat, ada dua orang yang duduk di kursi paling belakang terlihat panik menyadari saya kehilangan. Bukankah itu cukup mencurigakan (dan mungkin saja yg dimaksud petugas adalah orang tsb).
  2. Kenapa  begitu saya dipertemukan ke petugas di restorasi tidak langsung bergerak menuju ke gerbong saya. Saya malah dikondisikan duduk diantara mereka dan dinasehati macam-macam, banyak berkisah pula. Jika memang petugas sigap tentu akan mendahului kepentingan orang tertimpa musibah, entah bagaimana cara sampai pelaku ketangkap. karena saat itulah kesempatan memburu pencuri mengingat kondisi kereta masih melaju kencang. apalagi petugas juga menyadari kalau sebelumnya ada orang mencurigakan. Kurang apa coba…

    Tau-tau ada petugas kasih kabar kalau orang mencurigakan baru saja turun.
    Saya heran, untuk apa kabar itu? bukankah kesempatan melacak telah hilang seiring berhentinya kereta (yang sangat mungkin dimanfaatkan bagi pencuri untuk turun). Dan untuk apa pula saya dinasehati. Saya datang tidak menemui ustadz. Saya menemui petugas security. Seharusnya langsung bergerak, tidak terlihat pasrah  begitu saja. malah mengatakan alasan berkumpul yang mengesankan bahwa tugasnya telah berakhir. Maaf, itu membuat insting saya mengatakan ada kongkalikong antara krew, petugas security, dan (mungkin) pencuri.

  3. Turun dari kereta, saya diantar untuk menemui petugas lapor kehilangan. Kembali saya dinasehati. Selesai, kemudian dari surat itu saya diminta lapor ke Polsek. Loh, koq langkah saya malah menjauh dari stasiun. Bukannya barang saya hilang di gerbong. Bukannya saya tak tahu prosuder, tapi jengah aja karena nanti di polsek pasti saya juga diceramahi kembali. Intinya sama dengan kata2 petugas KA, “keamanan tergantung dari penumpang itu sendiri.”

Loh, saya tahu, anak kecil pasti sama tahu juga. tapi apa guna saya bayar mahal kalau diingatkan (baca:diceramahi) dengan kesimpulan seperti itu. Jujur, jika info tersebut diingatkan diawal perjalanan, tarohlah saat penumpang menaiki gerbong saya akan mengucapkan terima kasih kepada petugas pemberi nasehat, karena saya anggap peringatan itu sebagai salah satu bentuk service dan selanjutnya saya akan menolak jatah selimut dan bantal demi menuruti nasehat tersebut. []

Ciri-ciri laptop saya:

– Acer 4732Z (agak lupa serinya, sekitar type itu),
– warna hitam (sedikit kebiruan).
– masih ada cover plastik dibelakang LCD, tapi sudah dipermak modelnya sehingga menjadi belah ketupat.

Butuh datanya, karena data-data seluruh pekerjaan ada disitu, script,library,foto,dll, demikian juga ada data pondok pesantren yang saat ini sedang saya butuhkan.

Bagi yang beli second (karena pasti dijual ke penadah) mohon hati nuraninya untuk kasih tahu ane agar bisa ambil data2 tsb. Insyaallah ane ganti setimpalnya.

pm or ym: novis97

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov