Harga Sebuah Perjuangan

“Selama Barat masih menjajah kita lewat Media Informasinya, Jangan berhenti ngeblog!”

Diantara sekian banyak jam mengajar, training, workshop, ataupun pelatihan yang saya isi, pengalaman di Malhikdua memberi kesan yang berbeda, setidaknya bagi saya pribadi. Ada kepuasan yang saya dapat jika sudah memberi input kepada peserta di Malhikdua. Perihal audience/peserta yang rata-rata putri jelas memberi suasana hati lain, tapi semangat dan perjuangan dari mereka sendiri-lah yang membuat saya menjadi sebegitu dihargai.

Saya katakan sebuah perjuangan karena mereka rela meluangkan waktu ditengah padatnya jadwal Pondok. Sadar bahwa saya di Pondok tidak mengajar bab-bab kitab fiqih, ushulfiqih, dll seperti ustadz-ustadz lainnya, sehingga apa yang saya berikan tidak begitu dianggap penting. Saya hanya berbagi tentang dunia TIK, terhitung semenjak saya semester 9 kuliah di ITS (7 th lalu) hingga sudah berekor 2 seperti sekarang. Karena tidak pentingnya saya seringkali harus menyesuaikan dengan jam-jam pondok yang sebenarnya mustahil bisa dicuri. Saya harus selalu rela dinomersekiankan sehingga jam mengajar saya -walau 1 bulan sekali, kadang 2 minggu sekali- tetap ditayangkan di luar jam-jam premiere. Biasanya jam 22.00-23.30 saat hari aktif sekolah, jam-jam saatnya mereka menguap berjamaah. Saya baru dapat tempat di jam-jam favorit jika hari libur (jumat). Tapi siapa yang mau datang di kelas saya disaat suasana hati santri sedang ingin istirahat setelah hampir 7×24 jam belajar.

Beruntung, dalam situasi yang sempit ada saja santri-santri, baik yang masih siswa maupun yang fase pengabdian, yang selalu setia menyambut ajaran “sesat” saya. Beberapa tampak ikut-ikutan, mencoba menyembunyikan kantuk walau sering gagal, sebagian yang lain sangat kaffah dan antusias. Waktu tertinggi pelajaran saya adalah jam 22.00-02.30, diikuti 11 santri. Dini hari itu, di depan kelas, saya harus teriak-teriak

Atas dasar perjalanan TIK yang sedemikian berliku itulah yang membuat saya beberapa minggu lalu harus memberi reward kepada 6 santri yang telah menularkan dunia blogging kepada 150 siswa/santri lainnya. Dari keringat jerih payah mereka penyebaran TIK tidak lagi diam-diam, syiri, atau gerilya seperti yang pernah saya lakukan dahulu. Saya berikan buku-buku cerita/novel sekedar untuk menghibur mereka. Tidak pantas sebenarnya apa yang saya berikan untuk mereka. Jika jadi direktur perusahaan tentu sudah saya berikan bonus mobil atau umrah seperti program-program perusahaan dalam memotivasi karyawannya. Tidaklah terlalu berlebihan, sebab jasa mereka dalam menyiarkan Pondok tak ubahnya seperti Humas dalam suatu organisasi, atau Public Relation dalam sebuah coorporate.

Apa yang saya rasakan terhadap perjuangan mereka ternyata tidak sendirian. Lab Komputer, sebagai tempat peluh mereka dalam mengajari teman-temannya ngeblog juga turut memberi hadiah. Berupa koneksi internet gratis. Kalau tidak salah untuk selamanya. Sangat tepat bagi Lab karena geliatnya mereka yang nge-net kembali memutar jiwa enterprenuer mereka dalam mencari penghasilan tambahan, dalam himpitan mahalnya maintenance Lab. Santri butuh ngeblog sementara Lab butuh nafas. Sebuah hubungan simbiosis yang sangat mutualism.

Sayangnya, perjuangan TIK dan santri dalam mengharumkan citra pondok lewat kegiatan bloggingnya tidak disambut applaus oleh yang lain. Turun fatwa larangan berinternet malam dari Pondok. Sejak itu kehidupan bagai mati. Burung tak lagi berkicau, sungai berhenti mengalir, dan angin tak lagi berhembus. Diam dan beku..

Saya hanya berpesan kepada santri-santri untuk tidak berhenti, walaupun kembali dengan cara diam-diam. ***

Foto diambil dari

http://vector.ardyansah.com
http://www.champaignschools.org/staffwebsites/handelde
http://www.lovelylingfield.com/

Keluarga-keluarga barat (Yahudi) terus selalu menyiapkan generasi yang melek internet demi mempertahankan hegemoni Informasi atas dunia dan mendegradasi nilai-nilai islam.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov