Fenomena Cewek Pulsa dan Bisnis Baru di Kereta

Komunikasi adalah kebutuhan dasar manusia. Sebagai bagian dari gaya hidup yang serba cepat dan ringkas seperti saat ini, tuntutan akan komunikasi portable & nirkabel handal melalui handphone ataupun yang masih menggunakan kabel tentu saja menjadi hal yang sangat penting bagi semua orang. Tak heran bila kemudian banyak pebisnis tertarik menggarap sektor ini. Karena bisnis di bidang komunikasi mempunyai pangsa pasar yang luas dan terus berkembang. Lintas sekmen: tua muda pelajar tak terpelajar, bakul es, bakul krupuk, hingga lajang maupun duda.

Lihat saja saat orang berlomba-lomba mendirikan wartel. Meski prosentase yang diberikan Telkom sangat kecil, orang tak henti-hentinya meneruskan bisnis ini, karena setiap bulan income tambahan selalu diperoleh dengan pasti. Ketika masing-masing orang sudah punya HP, wartel masih tetap saja dipertahankan. Alasannya, sampai kapanpun orang tetap butuh komunikasi, yang artinya butuh pulsa. Sedikit gak papa, daripada tidak sama sekali.

Demikian, seakan komunikasi sudah mengalahkan kebutuhan lain. Berkembangnya teknologi komunikasi yang bertambah canggih dan mudah semakin menambah pangsa pengguna dan semakin pula mengabaikan kebutuhan-kebutuhan lain. Eksesnya juga merambah anak sekolah. Terjadi pergeseran manfaat uang saku. Saya baca-baca dan dengar-dengar, bahwa uang jajan anak-anak sekolah jaman sekarang 70% tersedot untuk beli pulsa, mengalahkan kebutuhan beli Chiki, Es Puter, dan Cimol. Pada usia diatasnya, sampai muncul istilah “cewek pulsa”, yakni cewek yang biasa “jualan” untuk membeli pulsa seluler prabayar. Demi pulsa, siswi-siswi nakal seperti ini biasa menjajakan diri kepada para hidung belang. Terungkap kali pertama di Cirebon, dan pasti sekarang sudah merambah di kota-kota lain. Tarifnya sekitar Rp 200.000.(iklan 3.. mau.mau.mau?)

Tapi saya bukan pengamat perilaku, dan sedang tidak ingin membahas masalah-masalah sosial terkait dampak trend komunikasi. Saya hanya mengungkapkan pengamatan saya didalam Kereta Api. Sebagaimana judul diatas.

Jika bepergian dengan kereta, jangan kuatir kehabisan pulsa di perjalanan, karena didalam Gerbong selalu ada orang yang menjajakan pulsa isi ulang. Harganya cukup kompetetif, gak jauh beda dengan outlet-outlet di luar. Sayangnya jualan seperti ini hanya ada di Kereta-kereta kelas Ekonomi. Kelas Bisnis dan Eksekutif tidak ada. Saya lihat pertama sejak 2006 saat perjalanan naik Gayabaru Jakarta-Purwokerto. Saat itu yang dijual hanya kartu-kartu Perdana, karena tak butuh modal perangkat HP.

Perkembangannya yang sekarang, nampaknya anda tak perlu takut lagi kehabisan baterei, terutama bagi anda yang tak mau kehilangan kontak dengan kekasih di sana, atau untuk anda yang sering asyik menghabiskan bateri demi lantunan MP3. Sekarang, sudah beredar jasa ngechass HP kilat. Tarifnya Rp. 3.000,- sampai penuh. Anda tinggal melepas baterinya saja untuk kemudian ditancapkan dalam sebuah alat bernama Multiple Charger. Abang pemberi jasa ini biasa membawa 3 buah multiple charger yang diletakkan diatas box keranjangnya. 1 buah bisa dibuat mencharger 3-5 bateri. Jadi nggak perlu lagi ngantre.

Jika Abang Penyedia jasa ini libur, jangan kuatir, langsung menuju gerbong restorasi, disana juga menerima jasa ngecharge HP. Minta sendiri ke awak kereta karena tidak dipasang pengumuman, seperti yang dilakukan Abang-abang keliling. Tarifnya lebih mahal, Rp. 5000,- untuk sekali ngecharge. Namun, karena petugas tidak menggunakan Alat Multiple Charger maka anda harus siap menunggu di restorasi dan menjaga HP agar tidak diembat orang.
Untuk pengguna Eksektutif jelas tak perlu kuatir lagi. Di Toilet sudah terpasang fasilitas colokon listrik. Tapi ini hanya berlaku untuk kelas Argo, jenis lain tidak.

Masih ada harapan bila ketiga cara diatas gagal. Tunggu kereta berhenti di Stasiun Purwokerta dan Jogja untuk jalur selatan atau Stasiun Semarang, Pekalongan, dan Cirebon untuk Jalur Pantura. Umumnya Kereta berhenti 15 menit. Paling lama di Stasiun Tawang Semarang, bisa 30 menit. Untuk kebutuhan urgent kiranya waktu tersebut cukup buat ngisi pulsa di outlet-outlet stasiun. Mereka biasa memasang tarif Rp. 1000, Rp.2000,-. Bagi yang pengin gratisan, cari saja mushola stasiun, pura-pura sholat dan colokin kabelnya ke stekker()

Gambar diatas hanya ilustrasi

(Visited 11 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov