Duta Bokep yang Tamak dan Memalukan

Percayalah, apa yang saya tulis dan sikapkan sama sekali tak mencerminkan dengan satu kata pada judul diatas. Kata bokep tersebut untuk mendedikasikan kepada segerombolan kawan blogger ponorogo yang menyebut dirinya BLOGGER KERE PONOROGO. (semoga tidak salah anonim). Mungkin karena mereka, -termasuk saya- seringkali menyaksikan beberapa blogger yang cenderung hura-hura dan pesta dalam kopdarnya, membuat kata kere lebih pas mereka sebut untuk dirinya, demi mengambil jarak dari gaya hidup hedon blogger di pesta tersebut. Selebihnya adalah wujud protes.

Kawan-kawan yang tergabung dalam BOKEP juga terlihat pejuang dan tahan banting dalam hidupnya. Dalam suatu event kopdar, karena tak punya dana cukup mereka nekad beriringan naik motor beratus-ratus kilometer dalam kondisi cuaca buruk, demi menjalin persahabatan antar blogger di rumah darat mas totok di gunung kelir Purworejo.

Itu sepenggal kisah perjalanan teman dalam menjelajahi dunia bloggerhood. Menginspirasi bagi saya pribadi untuk mengikuti acara yang beratus-ratus kilometer pula jaraknya, di Bekasi, dalam acara Blogshop Kompasiana bersama Blogger Bekasi. Beberapa minggu sebelumnya saya juga pernah mengikuti event di kota sama tapi berbeda tema. Hanya saja kondisi saat itu saya sudah 1 mingguan berada di jakarta, bukan sebuah keistimewaan: naik bis Mayasari 9B, duduk sebentar dah sampe lokasi. Berbeda dengan yang kemarin, berbekal cepek naik KA Ekonomi kertajaya 16 jam baru sampai. Benar-benar blogger kere pahlawan. Maksudnya dari kota pahlawan. (pake ilmu gothak gathuk hehe he)

Berangkat dari Stasiun Pasar turi saya naik kereta Ekonomi jam 15.30. Perjalanan surabaya-jakarta memang sangat panjang tapi karena lokasi di Bekasi dan bukan urusan bisnis maka naik kereta Ekonomi adalah pilihan tepat, disamping menghemat ongkos tentunya. Sepanjang perjalanan saya bolak-balik tanya ajengkol, salah satu panitia, perihal mandi. Maklum, sekere-kerenya merawat tubuh tetap yang utama. Sunnah rosul pula untuk tampil wangi dan bersih. Gak hanya ajengkol saja, teman lain juga saya hubungi, urusannya sama, tentang mandi. Doh, mandi saja sampe begitu persiapannya.

Sayang, analisa meleset. Kereta tidak berhenti di stasiun Bekasi, melambat sejenak untuk memberi kesempatan saya melompatpun tidak. Mau tak mau saya harus menanti stasiun berikutnya di Jatinegara Jakarta Timur. Singkatnya, acara numpang mandi tempat Ajengkol ataupun teman  gagal, berpindah ke Pom bensin depan Depsos. Tapi di POM Pertamina depan Depsos itu juga gagal karena berebutan dengan rombongan ‘ndeso’ seperti habis nganter lamaran atau mungkin nganter anaknya CPNS ke ibukota. Disitu saya hanya dapat bagian untuk membasuh muka dan wudlu untuk menunaikan sholat Subuh (atau dhuha ya? Dah siang 🙂 ).

Alhamdulillah, di lokasi acara saya berhasil menemukan tempat mandi, kurang lebih jam 9an. Selanjutnya, setelah tampil rapi kecuali rambut yang masih acak-acakan karena tiada sisir saya menuju tempat registrasi untuk membayar sebagai kewajiban peserta. Tapi petugasnya menolak. Saya bingung, âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Loh, mbak saya siap membayar neh! âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…” protes saya sambil menunjukkan lembar 50rb di kantong. Tapi petugas tetap menolak. Loh,âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚¦ (ya ini, blogger kere yang tamak. Dikasih gratis malah nolak. Malah mamerin 50rb ).

Ya, sudahlah, rejeki tak boleh ditolak. Saya masuk kelas, disitu telah banyak peserta dengan PC nya yang masing-masing sudah terhubung internet. Badan pegal, mata sayu, otak kram membuat saya tak begitu maksimal menikmati sesi demi sesi. Tak heran kalau peristiwa memalukan kembali terulang. Syaraf ini seperti ketelingsut saat menjawab kuis yang dibawakan mas Dhodie pemancu acara.

Tidak perlu saya detilkan. Nanti kemaluan .. eh, rasa malu saya semakin membesar.

Wisuda Blogger Kompasiana BeBlog angk I
(Visited 2 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov