main

Berita dan ArtikelLayananMovie

(Bukan) Perempuan Berkalung Sorban

18 Februari 2009 — 31

Beberapa jam lagi malam menghampiri kampung halaman, rumah hingga kamarku. Di depan kompi ini biasanya di jam-jam tersebut aku bisa melihat canda tawa mereka, melihat kesedihan mereka, melihat senyum mereka, melihat salah tingkah mereka, dan beragam kebersahajaan mereka. Antara jam 10 hingga tuntas mereka bisa kulihat. Meski hanya duduk didepan kompi, yang tersambung langsung melalui kabel-kabel menembus Ruang Lab .

Akupun tak ketinggalan seperti mereka. Aku ikut tertawa jika membaca postingan mereka yang unik-unik. Aku ikut sedih jika musibah menimpa meraka. Semua seperti apa yang mereka rasakan. Selanjutnya aku menanggapi dengan beragam komentar. Yang membangun, yang memotivasi, yang meladeni, hingga yang menggoda sekalipun.

Tidak semuanya aku komentari. Demikian pula tidak seluruhnya aku kunjungi. Ada beberapa blog yang seakan sudah menjadi menu santapanku setiap malam. Sebutlah Jumminten, suminni, sundhara, musrika, dan lain-lain. Walau tak ada rival aku sering berebutan untuk menjadi yang pertama di hati mereka. Tentu saja, karena tak ada rival aku selalu berhasil tampil yang pertama.

Tapi sudah dua hari kebahagian itu sirna. Tak ada lagi aktivitas yang kulihat dari blog-blog mereka. Kabar yang kudengar ada larangan untuk berinternet malam. Demi esok pagi agar tiada lagi santri yang ngantuk. Aku sangsi, apakah anak-anak di lab esoknya selalu kantuk jika malam sebelumnya ngenet. Bagiku ngantuk itu sebuah bakat, selebihnya terkait dengan mood terhadap pelajaran, guru, dan lain-lain. Tapi ya sudah, namanya juga peraturan. Harus selalu ditaati dan dihormati.

***

Aku memang sedih tak bisa berkomunikasi lewat bahasa-bahasa mereka di Blog. Namun aku lebih sedih membayangkan mereka tak lagi belajar menyerap informasi yang sehat, sedih mereka tak lagi berbagi, tak lagi bertukar ilmu dengan kakak-kakak kelasnya di luar sana, dan tak lagi berkomunikasi dengan dunia luar di era global, era dimana membangun jaringan (baca : silaturahmi) sudah menjadi kata kunci dalam meraih kesuksesan hidup, karir, dan sosial.

Sedihnya lagi karena diluar sana, secara beruntun dua film (3 Doa 3 Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban) sedang diputar, sama-sama menceritakan kehidupan dunia pesantren. Apakah aku harus menunggu judul ke 3 dari film yang diputar dengan versi mereka yang cenderung menyudutkan.

Andai mereka yang di Ponpes Al Hikmah bisa kembali bercerita. Tentang kehidupan santri yang sebenarnya…

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov