Bonek Terpecah atau Butuh Eksis?

Jumat malam (12/10/2013) ribuan pendukung Persebaya alias Bonek menggelar aksi di Tugu Pahlawan. Aksi ini sebagai bentuk perlawanan atas keputusan PSSI yang dinilai menzalimi tim kesayangannya, Persebaya 1927. Bentuk aksi damai yang dilakukan ribuan Bonek itu digelar dengan menyalakan seribu lilin.  Salah satu misi aksi adalah melawan penghilangan sejarah yang dilakukan oleh oknum-oknum di tubuh PSSI.

Di waktu dan tempat berbeda, (ternyata) banyak bonek merayakan lolosnya Persebaya (berikutnya saya sebut Persebaya KW untuk membedakan dengan Persebaya 1927) ke liga super putaran depan. Meski jumlahnya tidak banyak, tapi indikasi menjadi besar dan banyak sangat jelas terlihat terutama saat kemenangan itu diraih. Supporter beratribut hijau sorak-sorai menyambut. Bobotoh, sebagai sahabat setia bonek pun turut menyambut kabar gembira tersebut.  Kabar positif Persebaya  KW terus berkembang dan semakin prospek, yang mana akhir-akhir ini santer diberitakan pelatih sekaliber RD akan kontrak dengan Persebaya KW.

Jika mengikuti perkembangan tersebut, sepertinya aksi di Tugu Pahlawan tak lebih hanya gertak sambal. Sekedar menghias media di awal-awal pernyataan PSSI soal nasib Persebaya 1927. Cukup dicermati, bonek yang sejak awal menentang penghilangan sejarah terlihat adem ayem dengan rentetan kabar Persebaya KW yang saya sebut di atas. Seakan bonek hanya menunggu aksi CEO Persebaya 1927 memperkarakan Persebaya KW ke pengadilan. Padahal, kalau memang KW harusnya sudah dari dulu digugat pemilik Persebaya ori, bukan malah membuat nama baru dengan menambahkan 1927 yang ujungnya bikin blunder sendiri. Penambahan itu secara langsung menggiring opini bahwa yang asli tanpa tambahan apa-apa. Sang CEO, Cholid Goromah cuma meminta masyarakat menilai sendiri mana Persebaya yang asli dan mana yang tidak asli. (Selanjutnya tetap asyik dengan LPI nya).

Saya rasa apa yang dilakukan ribuan bonek plus jajaran elit Persebaya 1927 cuma muter-muter, tak lebih gertak sambal belaka. Saat ini memang terpecah, dan seperti yang dibilang Cholid, masyarakat masih menilai yang benar adalah Persebaya 1927. Tapi bagaimana dengan banyaknya bonek yang ‘diam-diam’ menikmati lolosnya Persebaya KW ke kasta tertinggi. Yang menentang lama-lama akan mengakui KW dengan pembiaran-pembiaran seperti ini.

Selama ini saya acung jempol dengan bonek yang begitu wani dan punya nyali dalam memerangi dan mengusir anak-anak punk keluar kota.  Jangankan itu, Kereta api pun bisa dipaksa henti saat melintas rel. Tapi saat mengetahui Persebaya KW hadir dan mengotori sejarah, nyali itu entah kemana. Tak tampak aksi pengusiran, demo, atau apapun terhadap keberadaan tim bentukan oknum ini.

Spirit bonek sejatinya berbeda dengan Persebaya (1927 ataupun KW). Eksistensi Bonek karena ada pertandingan.  Bonek tidak akan ada apa-apa jika sebuah pertandingan tidak digelar, karena dalam pertandingan ada yang didukung, ada yang disoraki, ada yang dilawan. Sedang spirit (pemain dan official) Persebaya tentu tak jauh dari karir dan kesejahteraan. RD mau teken kontrak dengan Persebaya KW karena tak peduli dan tak urusan dengan masa lalu Persebaya. Demikian dengan Yusuf Ekodono, sampai-sampai ‘mempengaruhi’ putranya.

Jika Persebaya KW benar-benar bertanding, dan yang asli sudah resmi dilarang, sedang bonek butuh eksistensi akan boneknya. Klop sudah.  Kita akan tahu, pada akhirnya kemana bonek memberi dukungan. Masyarakatpun akan menilai Persebaya mana yang benar.

Foto ribuan bonek di Gelora Bung Tomo Surabaya, diambil dari http://www.skyscrapercity.com, c: ray_sby

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

Site Footer