Berita dan Artikel

Benderangnya Cahaya

3 Mei 2010 — 3

main

Berita dan Artikel

Benderangnya Cahaya

3 Mei 2010 — 3

Alkisah dari seorang Mursyid. Seorang istri yang di dalam dirinya menyimpan ganjalan sangat berat karena menyangkut nilai-nilai mendasar yang sudah tertanam sejak kanak-kanaknya. Ia introvert, semua itu dipendamnya sendiri. Sampai mempengaruhi hormon-hormonnya, metabolismenya, menciptakan ganjalan dan pemadatan-pemadatan sel tertentu – yang mungkin saja dari situ asal usul Kankernya.Kemudian tatkala datang seseorang yang membisikinya. Bagaimana kalau nikah Ibu dan Bapak diperbaharui? – ia menangis total dan muntah-muntah seakan-akan membuang segala ganjalan hidupnya selama ini. “Memang itu yang menjadi isi batin saya selama bertahun-tahun. Kalau saja suami saya menolak pembaruan nikah, malam ini juga saya minta cerai”

Fisiknya yang sudah habis dan sangat lemah kemudian menjadi agak membaik sesudah pelepasan itu. Tapi itulah Candel Light Fenomenon: kalau nyala lilin membenderang, beberapa saat kemudian ia akan padam. Namun yang disebut padam itu adalah bahwa Allah sudah ridha atas niatnya dan menerimanya dalam keadaan husnul khatimah.*** (EAN)

Cukup lama kisah itu kusimpan. Hingga Minggu kemarin, saya mendapati seorang ibu yang akhirnya lepas dari ganjalan yang sudah sekian lama menggantung.

Bertahun-tahun sang ibu, sebut saja namanya Martini, mengharap anak-anaknya tumbuh kembang seperti yang dia harapkan. Rini, anak pertama, didambakan kuliah di fakultas bergengsi, kedokteran. Tapi apa daya sang anak memilih lain, Sastra Jawa.

Dalam kekecewaan, cinta ibu beralih ke Wati, putri yang lain. Yang agaknya lebih sesuai dengan selera sang ibu. Bertahun-tahun ia manjakan Wati. Berbeda sikap terhadap Rini, sampai wisudapun enggan untuk mendampingi.

Sang Ibu, walau kasihnya tampak berat sebelah, tetaplah seorang ibu yang terus menebar kasih anak-anaknya, termasuk pada si Rini, sang mbarep tadi. Ada penyesalan setelah lama ia acuhkan. Demi menebus rasa salah itu, begitu lulus, dimintanya Rini berkumpul lagi ke Jakarta.

Tatkala perjumpaan terjadi, keduanya berlinang air mata. Menangis sesal dan bahagia.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Agaknya, demi kasih orang tua, ia sembunyikan riwayat sakit kronisnya selama diasuh sang nenek di desa. Tak peduli bagaimana udara kotor jakarta bakal mengancam paru-parunya, sampai kemudian fisiknya melemah, habis, dan meninggal. ***

Dalam sedihnya ditinggal buah hati, bu Marti menjadi introvert terhadap yang namanya walimahan. Tak satupun ia ingin datangi. Melihat sang pengantin seketika akan mengingatkan kepada putrinya yang telah tiada di hari-hari menjelang pernikahan si sulung. Itulah yang dirasakannya. Timbul rasa sesal mendalam karena gagal membahagiakan anaknya hingga ke jenjang pernikahan, sebagaimana harapan banyak orang tua.

Tak ingin larut dalam kesalahan, diam-diam bu Martini berupaya menjodohkan si tengah Wati dengan lelaki pilihan. Mungkin dengan menikahkan putrinya yang lain, bayangan kesalahan terhadap si sulung bisa hilang dan tertebus.

Namun menjodohkan Wati bukan perkara mudah. Penuh liku, karena si Wati bukanlah tipe anak jaman Siti Nurbaya. Sampai usia menembus kepala tiga pun si tengah tak kunjung mendapatkan pria idaman. Kecemasan si ibu pun membuncah bertahun-tahun kemudian. Lagi-lagi Bu Martini gelisah, apakah Wati akan mudah mendapatkan seorang suami di usia ‘mepet’ seperti ini. Dengan siapa saja lah nak. Dudapun tak masalah.

Kecemasannya terjawab, seorang lelaki baru masuk dalam kehidupan wati. Tentu lelaki itu pilihan Wati. Tampaknya pilihan itu memenuhi selera ideal sang ibu : lajang, berpendidikan, ganteng, dan tak kalah pentingnya punya pekerjaan tetap. Selanjutnya, menikahlah si putri. Bahagia rasanya… Ada rasa plong di hati sang ibu. Sepanjang walimahan, bu Martini terlihat ceria, seperti ada beban yang telah berhasil ia lepaskan. Sebagai orang tua, sekaligus ibu yang bertahun-tahun berupaya menghilangkan bayangan almarhum sang sulung. ***

Hari berganti hari. Belum hilang aroma melati pernikahan, usai sholat Shubuh, Bu Martini ditemukan tergeletak di depan pintu. Sang suami yang mendapati istrinya pingsan langsung melarikan ke Rumah Sakit.

Panik dan mencekam. Suami dan anak berkumpul membisu, demikian pula Romli, si buyung yang sudah setahun merantau ke luar pulau. Semuanya berdoa mengharap kesembuhan sang ibu yang di kedua hidungnya sudah penuh selang-selang infus. Hasil CT Scan menunjukkan foto darah telah merembes di sebagian otaknya. Agaknya kekuatan pembuluh sudah cukup lemah menahan beban yang telah lama mengganjal. Pengalaman medis pun sangat kecil untuk menyelamatkan pasien dengan kondisi tersebut. Tapi sebagai hamba, apa lagi yang bisa lakukan selain berdoa.

Dan Tuhan memang tidak buta, tidak tuli. Malam itu, setelah 3 hari kritis di ICU, tiba-tiba EKG, (Electro Cardio Grafic, meteran pengukur kerja jantung) dan tekanan darah bergerak ke angka normal. Sang Ibu terbangun dari komanya, tersenyum kepada suami dan anak-anak. Bahkan beberapa jam kemudian bisa diajak bicara dan minta dituntun ke kamar mandi hendak wudhu buat shubuh. Sholat yang terakhir ia tunaikan sebelum dirinya ambruk beberapa hari lalu. Sebuah keajaiban.

Secara klinis membaik, dokter membolehkan pindah ruangan. Rona kebahagian menyelimuti keluarga dan kerabat yang datang. Sebagai wanita dan pengantin baru, Wati pun balik ke rumah menjumpai suami yang telah beberapa malam ia tinggalkan.

Seperti tuah sang Mursyid di atas, itulah candel light fenomenon. Orang jawa bilang “nyenengke wong sing njogo.” (menyenangkan orang yang merawat). Karena usai wudhu itu kondisinya ngedrop. Bu Martini kembali berbaring di kasur. Perlahan bola matanya bergerak keatas, seakan menatap sesuatu yang terlepas. Ruh. Bu Martini meninggal.

Lepasnya beban sang ibu, lepasnya dunia darinya. Selamat jalan Budhe. 22 April 2010. Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov