Benarkah Jeruk Pecel Bisa Menghadang Serangan Ketombe?

jeruk-nipis1

Tak tahu mengapa saya selalu didera masalah kulit kepala bernama ketombe. Tak tahu sejak kapan. Hampir beberapa hari sekali tangan saya dipaksa untuk garuk-garuk kepala. Akibatnya, disetiap hari itu selalu ada ketombe rontok dan menodai baju hitam. Itu gak seberapa, bila serangan datang dan garuk-garuk kepala dilakukan, …pyuh.. rontoknya ketombe itu seperti salju. Buanyaak banget.

Awalnya saya cuek, bahkan selalu mengkritisi iklan ketombe di televisi. Gara-gara masalah ketombe, Indonesia sudah menghabiskan dana bermilyar-milyar atas tampilnya iklan-iklan tersebut. Mulai dari Shampo Klir, Rijois, hingga Pentin, semua berlomba mengunggulkan produknya dalam memberantas ketombe. Uang segitu tentu lebih baik dipake buat kesejahteraan rakyat. Kritisi saya sok kritis.

Meski cuek, tapi diam-diam saya selalu tergerak untuk memakai shampo-shampo tersebut. Bukan melulu karena ketombenya, tapi bayangan model-model cowo dan cewe cantik dalam iklan yang kerap memenuhi imajinasi indah selepas keramas. Alhasil, sudah berapa shampo saya coba untuk itu, bahkan sabun hijau untuk gatal-gatal kulit sudah pernah saya rasakan. Namun hasilnya : NIHIL. Baju hitam saya tetap kejatuhan ‘salju’. Efek tiap shampo hanya bertahan 6 jam. Selebihnya, Duh. Kata pakar, itu karena saya terlalu sering gonta-ganti shampo.

Hmm, begitukah..?

Ngomong-ngomong soal gangguan ketombe, selain mengganggu penampilan juga meresahkan suasana. Ketombe itu memang menyerang, bukan sekedar majas. Serangan biasanya terjadi jam 1 malam, dimana saya harus bangun untuk garuk-garuk kepala. Karena sambil tidur, bantal dan kasur pada kerontokan. Meski tidak lama, kurang lebih 30 menit, tapi namanya serangan tetaplah berbahaya. Sangat mengusik malam.

Bertahun-tahun saya mengalami nasib seperti itu. Sampai-sampai kalau sudah terjadi serangan, kulit kepala ini rasanya pengin saya sobek-sobek. Parah bukan.

Dan serangan berlanjut lagi tadi malam, pas lagi enak-enaknya nonton bola, Indonesia versus Maroko, ketombe tiba-tiba menyerang. Ini tentu aneh, karena hari masih terbilang malam, bukan dini hari. Karena masih melek akhirnya saya coba keramas, pake klir mentol (karena iklan pula) yang segernya menyejukkan kepala. Selesai, saya lanjutkan aktivitas nonton bola. tentunya sambil handukan dengan tubuh ote-ote (cuma celana tanpa baju, istilah surabaya).

Sambil nonton bola di rumah ibu, saya cerita kalau habis keramas. Lantas ibu berbagi pengalaman, kalau dulu rambutnya juga ada masalah sama. Tapi hilang setelah digosok pake jeruk pecel. “Coba saja” Kata ibu sambil menyuruh saya mengambil jeruk pecel di kulkas. “Caranya jeruk diiris tipis, kemudian digosokkan ke kulit kepala”. Ujar ibu melanjutkan.

Singkat cerita, saya menuruti nasehat ibu. Saat digosok itu terasa ‘pletikan’ kecil-kecil dikepala. Kata ibu itu pertanda perasan jeruk yang digosokkan melawan kuman-kuman di kulit kepala. “nanti, habis itu keramasi agar tidak lengket-lengket di kepala.” masih kata ibu.

Saya pun mengikuti tips tersebut. Benar, hingga blog ini saya ketik, seperti ada rasa yang beda di kulit kepala. Tidak lagi terasa ada gatal yang tersisa seperti yang terjadi saat habis pakai shampo-shampo. Namun, waktu masih belum 2 jam dari proses penggosokan, belum berani menyimpulkan jeruk pecel berkhasiat melenyapkan ketombe. Bisa saja rasa ini hanya sementara, setelah itu menyerang lagi. Apalagi kata ibu metode seperti ini harus dilakukan rutin sebelum keramas. Istilahnya harus diterapi.

Yuk, tunggu updet selanjutnya.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov