main

Berita dan ArtikelLayanan

Bangunan Stren Kali Pantas digusur?

12 Mei 2009 — 28

Sudah dua minggu ini Surabaya diramaikan dengan ritual kota penggusuran.  Kali ini yang jadi target adalah stren kali Jagir. Jika 2 minggu sebelumnya bagian selatan jagir, mulai dari Bendungan Wonokromo sampai Jembatan Nginden, maka siang tadi giliran bagian Utara yang ketiban apesnya.

Tema terkait stren kali berujung menjadi ngetrend dibicarakan dimana-mana, tak terkecuali dengan saya and the gank. Dalam cangkrukan yang menjadi khas orang kecil macam kami didapat kesimpulan yang cukup menarik, bahwa bangunan diatas stren kali layak digusur. Analisanya diperoleh dengan ajakan flashback ke belakang dan proyeksi ke depan

Sentot, salah satu peserta ‘forum’ mengajak semuanya menarik garis tahun ke belakang. Taruhlah 5 tahun lalu, banyak orang sudah mendirikan bangunan permanen disepanjang bantaran kali Jagir, full booked. Padahal, kalau semakin mundur kebelakang, 10 tahun. Bangunan yang ada hanyalah bangunan kecil non permanen milik penjual perlengkapan pancing yang letaknya didepan kantor pajak. Dari sini kita kembalikan menjadi proyeksi 10 tahun kedapan, atau gak usah jauh-jauh 1-2 tahun mendatang, bisa dipastikan lebar kali jagir berkurang signifikan. Kita jelas tahu apa yang menjadi akibat jika daya tampung aliran tak selancar biasanya.

“Kenapa tahun-tahun mendatang efek buruk itu bakal terjadi..” Lanjutnya dengan mata menerawang. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Lihat bangunan sekarang (sebelum digusur -red)âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚, Sudah banyak yang bertingkat. Orang juga tak segan-segan dan begitu mudahnya mendirikan tiang-tiang diatas kali. Ini bisa menjadi prospek bagi pemilik yang ingin mendirikan bangunan baru diatasnya untuk dijual ke pemilik baru. Demikian secara estafet berlangsung seterusnya, karena pemilik ini dalam tanda petik” Kata Sentot sambil mengapitkan 2 jarinya.

âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Jangan lupa pula faktor perilaku orang tepi sungai. Buang sampah disungai tidak mungkin dicegah. Sudah otomatis wajib dilakukan. Setiap rumah pasti ingin bersih dari sampah, walau mereka sudah membayar iuran tetap saja sampah itu jarang diangkut. Kebanyakan orang penganggkut sampah kesulitan atau mungkin malas mengambil sampah di jalanan yang kecil, sempit dan cenderung kumuh.

âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Jika anda gak percaya, coba ingat bangunan sepanjang kali tersebut, adakah tong sampah didepan rumah. Bisa dihitung jari.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Tegasnya kemudian. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”padahal setiap rumah selalu ada aktivitas memasak. Orang-orang dibantaran tersebut sudah pasti membuangnya ke sungai, karena sudah jadi kebiasaan. Kebiasaan ini diperparah jika hujan deras dan air mengalir kencan, penghuni rumah selalu mengambil kesempatan ini untuk membersihkan âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“viewâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ disekitar rumahnya dengan membereskan sampah-sampah itu langsung ke sungai, melihatnya hanyut, dan terbawa mengalir jauh. Selanjutnya mereka lega. Bagaimanapun sampah-sampah bikin mereka sumpek melihatnya.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚

Kawan saya ini semakin menerawang, seperti ke masa silam. Saya dan teman-teman lain tak bisa membantahnya karena dia sendiri sudah puluhan tahun tinggal di stren kali. Satu hal yang pernah saya catat dulu adalah kebiasaan dia membuang kotoran-kotoran dirumah langsung ke sungai, tanpa malu-malu karena tetangga kanan kiri juga melakukan hal serupa.

Namanya juga cangkrukan, tentu jiwa sebagian dari kami adalah membela orang-orang kecil di tepian kali tersebut. Saat hal itu saya sentuhkan, kawan saya ini membantah, lagi-lagi mengajak kami semua untuk mengingatnya. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Biasa media selalu menanamkan opini yang belum tentu seimbang. Coba lihat berapa persen orang kecil disana. Hampir semua bangunan disepanjang kali tersebut adalah pengusaha-pengusaha. Dari penjual kayu, besi tua, hingga showroom mebel.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Kata sentot tadi. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…”Yang diwawancarai di TV Cuma tukang becak dan pemulung, coba sesekali mereka wawancara bisnismen-bisnismen itu, atau wak kaji-wak kaji yang sampai sukses membangun bangunan 2 tingkat, atau yang sampai melebarkan luasnya hingga menyerobot aliran kali. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…” Sambung sentot berapi-api.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Jangan lupa pula, orang-orang kaya itu juga menjadikan bangunan ditepi sungai menjadi lahan bisnis.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚

Semakin panas, dialog tak kami lanjutkan karena pada saatnya juga jam harus menyuruh kami bekerja lagi. Seratus persen saya pribadi membenarkan pula akhirnya, karena jika dipikir-pikir kasus penggusuran bangunan stren kali tidak bisa disamakan dengan penggusuran lapak-lapak PKL di tepi jalan raya. Tampaknya ritual ini benar-benar menjadi ujian bagi walikota, ada dilema dari relokasi warga disana. Di satu sisi Rumah Susun yang disiapkan belum rampung. Di sisi yang lain, bangunan di sepanjang stren semakin menjamur, semakin menyisakan sedikit ruang untuk aliran. Rasa-rasanya bisnismen-bisnismen itu sebenarnya mampu untuk pindah tanpa melemparkan masalah pada rumah susun.

Ya, seringkali kita tertipu dengan teks âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“orang kecilâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ dan turut menjualnya dengan propaganda idealis-idealis tingkat tinggi. Hendaknya kita berhati-hati sampai dengar tuntas masalahnya. ()

Foto diambil dari :

Homepage


http://www.detik.com

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov