Sluku-Sluku Bathok

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung mutho
Pak jenthit lolo lo bah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip golekko dhuwit

Awalnya saya mengira ini adalah lagu dolanan biasa yang dinyanyikan anak kecil di Jawa. Tapi anggapan berubah setelah Sudrun, vokalis Cak Nun kala itu kerap menyanyikan lagu ini. Kanjeng Sunan Kalijogo sengaja menjadikan lagu untuk permainan anak-anak agar berasa ringan dan terus terbawa sepanjang jaman.

Benar, andai saja lagu tersebut bukan genre anak-anak tentu hingga sekarang saya tak mendengarnya lagi. Pada pengajian bakda Shubuh di sebuah masjid Muhammadiyah di bilangan Bratang diurai jelas makna lagu kuslu-kuslu batok yang ternyata tak sesederhana yang saya kira. Dalam preambulenya, Sang Ustadz menjelaskan hikmah Wali menggubah lagu yang judulnya diserap dari bahasa arab “Ghuslu-ghuslu bathnaka”, yang artinya mandikanlah batinmu.

Pengubahan bahasa Arab ke bahasa Jawa merupakan metode para Wali dalam berdakwah sebagaimana pesan Rasulullah , “Khâtibun-nâsa bilughati qaumihim”. Berbicaralah / berdakwahlah kepada manusia dengan bahasa kaumnya.

“Sebab dakwah tidak akan efektif bila menggunakan bahasa yang tidak dimengerti suatu kaum,” lanjut Ustadz yang sempat menyinggung ceramah Jumat (sepertinya masjid di Ngagel) yang menggunakan bahasa Arab awal sampai akhir.  “Dakwah itu kuncinya yang penting paham dan dimengerti. Fungsi dalil hanya sebagai penguat kebenaran suatu argumen. Bukan sebagai bahasa dakwah.” Sambungnya.

Lagu ini begitu luas pemahamannya tentang agama, dan begitu dalam ungkapan jiwa seninya, berisi kepedulian pendidikan anak negeri, dan semangat dalam sebarkan kebajikan.

“Sluku-sluku bathok”

Kalimat ini mempunyai beberapa penafsiran, ada yang mengatakan kalau kalimat ini berasal dari bahasa arab “Ghuslu-ghuslu bathnaka”, yang artinya mandikanlah batinmu. Riwayat lain mengatakan dari kata “Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah” (masuk masuklah bathinmu , bathinmu kepada Tuhan). Maksudnya, kita harus membersihkan batin dulu sebelum membersihkan badan atau raga. Sebab lebih mudah membersihkan badan dibandingkan membersihkan batin atau jiwa.

“Bathoke ela-elo”

Sluku-sluku bathoke tadi dengan cara bagaimana?  Yaitu dengan cara ela-elo. Yakni dengan cara “Batinmu (melantunkan): laa ilaaha illallaah”, maksudnya, hati kita harus senantiasa berdzikir kepada Allah, diwaktu senang apalagi susah, dikala menerima nikmat maupun musibah, sebab setiap persitiwa yang dialami manusia, pasti mengandung hikmah. Oya, bathok adalah tempurung kelapa, yang secara filosofi dan bentuknya seperti kepala manusia

“Sirama menyang Solo”

Siram (mandilah, bersuci) menyang (menuju) Solo (Sholat).  Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakanlah shalat. Maksudnya, sebelum kita mengerjakan sholat ataupun ibadah yang lainnya, kita harus siram, mandi, atau mensucikan diri dari hadas ataupun kotoran lahir-batin, karena Gusti Allah itu Maha Suci, dan sangatlah tidak sopan kalau kita menemuiNya dalam kedaan tidak bersih dan tidak suci.  Riwayat lain menyebut Si Rama.  Si Rama menyang sala (bapak pergi ke sala), dari kata Sharimi Yasluka (petik dan ambillah satu jalan masuk). Yang dimaksud adalah jalan kebahagiaan dan keselamatan, melalui beragama secara benar, berIslam secara benar.

“Oleh-olehe payung mutho”

Menjaga sholat saja belum cukup, kita juga harus mengucap “oleh-olehe payung mutho”, yaitu mengucapkan “laa ilaaha illallah hayyun mauta”. Maksudnya, kita harus senantiasa melanggengkan dzikir kepada Allah mumpung masih hidup, bertaubat sebelum datangnya maut.  Payung mutha sendiri adalah payung jadul dari kertas semen yang sangat besar, biasanya untuk mengiringi keranda jenazah.

“Mak jenthit lolo lobah”

Maka dari itu, “fajaddid allaila lubbah”, yaitu perbaruilah (imanmu dengan ucapan laa ilaaha illallaah) pada malam ini, yaitu pada tengah (malam)Nya. Jentit disini dimaknai gerakan Sujud. Mak jenthit juga menunjukkan bahwa nyawa manusia itu singkat, gampang saja putus jika Allah berkehendak.

“Wong mati ora obah”

Jasad yang sudah meninggal tidak dapat bergerak. Dari kata “hayun wal mauta innalillah”. Saat kematian sudah datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang. Banyak ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharatnya akan lebih besar.

“Yen obah medeni bocah”

Kalau dia bergerak akan membuat takut anak-anak, dari kata “mahabbatan mahrajuhu taubah”. artinya kecintaan yang menuju pada taubat.

“Yen urip golekko dhuwit”

Dari kata “yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq”, artinya sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar. Maka dari itu, kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat kita masih hidup. ingin kaya, ingin membantu orang lain, ingin membahagiakan orang tua? sekaranglah saatnya. Ketika uang dan harta benda masih bisa menyumbang bagi tegaknya agama Allah.  Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *