Ada Rencana Pelantikan M2Net. Woww!

Kemarin saya mendapat informasi dari salah seorang penggiat informasi di Pesantren tentang tawaran pelantikan untuk anggota M2net. Kabar tersebut cukup membuat saya ‘panik’. Lho koq? bukankah itu positif, tanda pengakuan eksistensi sekolah terhadap M2Net, sebuah organisasi penggerak masyarakat ‘melek’ informasi yang selama ini jalan gerilya di pesantren. Continue reading “Ada Rencana Pelantikan M2Net. Woww!”

Ticketing Busway Menyalahi Misi Wisata Kota

Sejatinya teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia. Beragam alat dibuat canggih untuk membantu manusia demi efektivitas kehidupan sehari-hari. Prinsip kehadiran teknologi ini rupanya tidak saya jumpai saat hendak menggunakan busway di Jakarta. Continue reading “Ticketing Busway Menyalahi Misi Wisata Kota”

Tips ke Bumiayu dari Surabaya lewat Utara

sakalibel
Jembatan Sakalibel dengan pemandangan gunung Slamet nan hijau. Hanya ada di Bumiayu.

Sudah satu dasarwarsa lebih kalau mau ke Bumiayu saya melalui selatan dengan rute Surabaya-Jogja-Purwokerto, baik menggunakan bus ataupun kereta. Jalur selatan dipilih karena Bumiayu bisa dicapai setelah Purwokerto. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat. Continue reading “Tips ke Bumiayu dari Surabaya lewat Utara”

Kopdar Perdana Diaspora, Sederhana dan Meriah

20150915091420Setelah melewati diskusi panjang lebar lewat grup WA Diaspora, akhirnya terselenggara kopdar pertama di Surabaya. Kopdar yang diselenggarakan Selama malam (15/9/15) oleh  beberapa anggota M2net ini bertempat di Depot Pangsit Mie dan Bakso KM 35, Jl Karangmenjangan 35 Surabaya, seberang kampus Poltekes. Continue reading “Kopdar Perdana Diaspora, Sederhana dan Meriah”

Cinta Tak Bersambut

Sudah beberapa malam saya mikirin Benda. Membayangkan anak-anak yang mulai menggeliat bangkit dari kejenuhannya. Tapi tatkala rencana kesana sudah bulat, materi-materi sudah didapat, satupun tak ada yang membuka tangan, apalagi bakal dipeluk hangat.

Sayapun kembali ragu untuk datang. Realistis, Surabaya – Benda bukan jarak yang dekat.
Saya yakin, anak-anak itu sebenarnya juga menunggu. Anak-anak itu pasti menangkap sinyal kerinduan saya. Tapi mereka tak punya cara untuk menjawab salam ini. Alih-alih buat membuka gerbang Pondok.

Bukan GR kalau saya sebut mereka juga rindu, tapi melihat keriuhan mereka tatkala saya datang sudah cukup menyimpulkan demikian. Ada mie ayam, ada karedok, gado-gado, dan segala macam gorengan disuguhkan di depan perut yang selalu lapar. Bak gadis-gadis desa menyambut pemuda dari kota. ..yg terakhir ini jelas GR.

Endingnya, saya hanya bisa memendam cinta suci ini. Menunda perjumpaan dan mengatur ulang jadwal yang pas di kemudian hari. Meski terasa konyol, karena ini adalah kesekian saya gagal berangkat hanya karena tuan rumah keep silent. Jangan kuatir buat kawan-kawan yang tak henti-hentinya mensuport saya dibalik kesibukan dan persembunyiannya, bahwasanya saya masih meyakini : “Semua akan indah pada…hal enggak.”

Met malam semua .. :*

Continue reading “Cinta Tak Bersambut”