Konon, kata orang-orang jurnalis, berita yang usianya melewati 3 hari sudah dianggap basi. Pastinya itu dulu, ketika wartawan masih disebut kuli tinta, kemudian kuli disket. Sekarang, setelah tren jurnalistik online mewabah ukuran kebasian sebuah berita bukan lagi hitungan hari, jam, ataupun menit, tapi keberadaan berita yang sama dari media kompetitor. Yang perlu diingat media kompetitor sekarang bukan lagi dikuasai oleh media arus utama, tapi juga media-media milik para ranablog yang jumlahnya ribuan. Belum lagi info-info di twitter yang lebih sering mendahului daripada media resmi.

Lantas apa hubungannya prolog diatas dengan judul. Ya, saya, paman gembul, pembina M2Net (bersama Pradna dan teman2 lain) akan bercerita tentang video yang dianggap menghina bagi sebagian orang di pesantren. Cerita saya ini pasti dianggap basi karena kasus tersebut sudah tidak bergema lagi. Bukan karena saya telat tapi ingin menjaga jarak aman agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Mengingat posisi saya masih memungkinkan untuk keluar masuk pesantren yang dimaksud. Kalau ada apa-apa saya bisa babak belur, sedang teman-teman lain sudah pasti aman. Seperti kang Pradna yang rencana tak mau lagi masuk ke area pesantren, lebih milih nunggu di parkiran katanya… he he he.. Sebuah penggambaran sadis tentang kondisi di sana. Padahal saat berita tersebut memanas, suasana di pesantren sangat tenang dan damai. Kalaupun ada kisah seorang anggota M2net yang dipanggil pengurus lewat corong speaker, seperti yang beritakan di detik.com hanyalah salah satu fragmen dari sejuta dinamika di Pesantren. Yang bersangkutan pun tidak tahu kalau kasus ini sampai masuk di media arus utama. [Baca ini di detik.com] dan [Baca itu di detik.com juga].

Jadi kembali saya tegaskan, kalau saya baru cerita sekarang bukan berarti saya blogger pemalas, tapi memang ingin menunggu moment yang pas. Menunggu semuanya reda hingga kepala pihak-pihak yang tersangkut tidak lagi panas. Saya pun sebenarnya tak perlu mengungkap kasus ini kembali mengingat tradisi kasus di pesantren seringkali hilang begitu saja, tanpa ada upaya cek silang, tabayyun, dan semacamnya. Namun yang hilang biasanya akan muncul lagi ke permukaan, tergantung tema politis yang ada. Maka dari itulah, saya harus berterus terang tentang masalah film ini, semacam buku putih, sebagai bentuk tanggung jawab atas ide yang sempat merepotkan sebagian pihak di pesantren. Atas hal tersebut saya minta maaf sebesar-besarnya.

 Selain minta maaf saya juga ucapkan terima kasih atas kebesaran hati para pihak, utamanya pengurus dan jajaran pengelola pondok atas diikhlaskan film tersebut beredar. Keikhilasan tersebut (plus dukungannya) secara tidak langsung menjawab tuduhan penghinaan atas pesantren. Bahwa sebenarnya ke tiga film tersebut tidaklah mengandung unsur penghinaan. Bahkan dalam pesantren modern semacam Al Hikmah 2 rupanya telah menjunjung kebebasan berekspresi sebagaimana tema di film.

 Ya, Jika memang kebebasan berekspresi dikekang pastinya film tersebut tak akan pernah ada bukan.. []

Pesan yang ingin saya sampaikan cukup simple : berpikir positif saja terhadap apa yang kami buat. Dipostingan berikut akan saya beberkan rahasia di balik pembuatan trilogi film, plus agenda undangan ke Singapura oleh Google. Tentunya gara-gara film ini.